Gambar Ilustrasi
Usulan Pemanfaatan Intensitas Angin di Rt11 / Rw 08, Untuk Pembangkit Listrik Penerangan Jalan di Jln Mawar III Perumnas Ngronggo
Abstrak
Salah satu sebab akan adanya kelangkaan sumber daya alam di dunia ini adalah semakin tingginya
kebutuhan minyak dan gas (migas). Sementara produksi migas tidak diimbangi
dengan kenaikan kapasitas produksi dari kilang-kilang yang ada. Oleh sebab itu, dibutuhkan sumber daya energi yang baru yaitu angin.
Per masalahan dalam pembuatan premmovernya / turbine/baling-baling .Dengan Daya Yang Dihasilkan ”
Rancang bangun turbin angin bertujuan untuk mengetahui karakteristik daya yang
dihasilkan dengan panjang baling-baling.
Rancang bangun kami menggunakan metode trial and eror
Pengujian 2bh/2 macam yaitu jenis baling-baling (TASH) dan Jenis (TASV) yang sedang kami adakan percobaan di Rt11 / Rw08.Kelurahan Ngronggo, yang kedepanya akan kami terapkan pula dikemudian hari, bila Usulan kami di Prodamas Plus th 2021 disetujui.
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Kincir angin pertama kali digunakan untuk membangkitkan listrik dibangun
oleh P. La Cour dari Denmark diakhir abad ke-19. Setelah perang dunia I, layar
dengan penampang melintang menyerupai sudut propeler pesawat sekarang disebut
kincir angin tipe propeler' atau turbin. Eksperimen kincir angin sudut kembar
dilakukan di Amerika Serikat tahun 1940, ukurannya sangat besar yang disebut mesin
Smith-Putman, karena dirancang oleh Palmer Putman, kapasitasnya 1,25 MW yang
dibuat oleh Morgen Smith Company dari York Pensylvania. Diameter propelernya
175 ft(55m) beratnya 16 ton dan menaranya setinggi 100 ft (34m). Tapi salah satu
batang propelernya patah pada tahun 1945. (Astu Pudjanarso, 2006)
Pada tahun 2005, cadangan minyak bumi di Indonesia pada tahun 2004
diperkirakan akan habis dalam kurun waktu 18 tahun dengan rasio cadangan/produksi
pada tahun tersebut. Sedangkan gas diperkirakan akan habis dalam kurun waktu 61
tahun dan batubara 147 tahun. Sementara tingginya kebutuhan migas tidak diimbangi
oleh kapasitas produksinya menyebabkan kelangkaan sehingga di hampir semua
negara berpacu untuk membangkitkan energi dari sumber-sumber energi baru dan
terbarukan. (DESDM, 2005)
Kebutuhan energi di Indonesia khususnya dan di dunia pada umumnya terus
meningkat karena pertambahan penduduk, pertumbuhan ekonomi dan pola konsumsi
energi itu sendiri yang senantiasa meningkat. Salah satu sumber pemasok listrik,
PLTA bersama pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) dan pembangkit listrik tenaga
gas (PLTG) memang memegang peran penting terhadap ketersediaan listrik terutama
di Jawa, Madura, dan Bali.
Indonesia adalah negara yang memiliki sumber daya energi yang sangat
melimpah, salah satunya adalah sumber energi angin. Indonesia yang merupakan
negara kepulauan dan salah satu Negara yang terletak di garis khatulistiwa
merupakan faktor, bahwa Indonesia memiliki potensi energi angin yang melimpah.
Pada dasarnya angin terjadi karena ada perbedaan suhu antara udara panas dan udara
dingin. Di daerah katulistiwa, udaranya menjadi panas mengembang dan menjadi
ringan, naik ke atas dan bergerak ke daerah yang lebih dingin. Sebaliknya daerah
kutub yang dingin, udara menjadi dingin dan turun ke bawah. Dengan demikian
terjadi perputaran udara berupa perpindahan udara dari kutub utara ke garis
katulistiwa menyusuri permukaan bumi dan sebaliknya suatu perpindahan udara dari
garis katulistiwa kembali ke kutub utara, melalui lapisan udara yang lebih tinggi.
Potensi energi angin di Indonesia cukup memadai, karena kecepatan angin rata-rata
berkisar 3,5 - 7 m/s. Hasil pemetaan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional
(LAPAN) pada 120 lokasi menunjukkan, beberapa wilayah memiliki kecepatan angin
di atas 5 m/detik, masing-masing Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat,
Sulawesi Selatan, dan Pantai Selatan Jawa.
Tabel 1.1 Pengelompokkan potensi energi angin, pemanfaatan dan lokasi potensial.
KELAS Kec. Angin
(m/s)
Daya Spesifik
(W/m2
Kapasitas
) (kW) Lokasi
Skala Kecil 2,5 - 4,0 < 75 s/d 10
Jawa, NTB,
NTT, Maluku,
sulawesi
Skala Menengah 4,0 – 5,0 75 -150 10 -100 NTB, NTT,
Sulsel, Sultra
Skala Besar >5,0 > 150 > 100
Sulsel, NTB,
NTT, Pantai
Selatan Jawa
Sumber: LAPAN, 2005
Pada tahun 2009, kapasitas terpasang dalam sistem konversi angin di seluruh
Indonesia mencapai 1,4 MW yang tersebar di Pulau Selayar (Sulawesi Utara), Nusa
Penida (Bali), Yokyakarta, dan Bangka Belitung. Melihat potensi wilayah pantai
cukup luas, pemanfaatan tenaga angin sebagai sumber energi terbarukan di Indonesia
sangat mungkin untuk dikembangkan lebih lanjut (Eko S. Baruna, Pusat data dan
Informasi ESDM).
Salah satu pemanfaatan energi angin adalah penggunaan turbin angin yang
banyak digunakan untuk kebutuhan pertanian, seperti untuk menggerakkan pompa
untuk keperluan irigasi, serta kebutuhan akan energi yaitu sebagai pembangkit listrik
energi angin. Berbagai macam penemuan turbin angin sebagai pembangkit energi
alternatif sudah ditemukan sejak lama dengan berbagai macam bentuk desain. Turbin
angin tipe savonius adalah salah satu macam turbin angin yang ditemukan sebagai
pemanfaatan energi angin yang bekerja dengan memanfaatkan kecepatan angin.
Bentuk sudu dibuat sedemikian rupa sehingga dapat menghasilkan gaya dorong yang
akan memutar rotor. Besarnya putaran rotor yang dihasilkan berbanding lurus dengan
besarnya kecepatan angin.
2.2.1 Definisi Energi Angin. Angin adalah udara yang bergerak yang diakibatkan oleh rotasi bumi
dan juga karena adanya perbedaan tekanan udara disekitarnya. Angin bergerak
dari tempat bertekanan udara tinggi ke bertekanan udara rendah. Apabila
dipanaskan, udara memuai. Udara yang telah memuai menjadi lebih ringan
sehingga naik. Apabila hal ini terjadi, tekanan udara turun karena udaranya
berkurang. Udara dingin disekitarnya mengalir ke tempat yang bertekanan
rendah. Udara menyusut menjadi lebih berat dan turun ke tanah. Diatas
tanah udara menjadi panas lagi dan naik kembali. Aliran naiknya udara panas
dan turunnya udara dingin ini dikarenakan konveksi.
Gambar 2.1 Foto satelit gerakan angin. (Wikipedia, 2010)
Tenaga angin menunjuk kepada pengumpulan energi yang berguna
dari angin. Pada tahun 2005, kapasitas energi generator tenaga angin adalah
58.982 MW, hasil tersebut kurang dari 1% pengguna listrik dunia. Meskipun
masih berupa sumber energi listrik minor dikebanyakan Negara, penghasil
tenaga angin lebih dari empat kali lipat antara 1999 dan 2005.
Kebanyakan tenaga angin modern dihasilkan dalam bentuk listrik
dengan mengubah rotasi dari pisau turbin menjadi arus listrik dengan
menggunakan generator listrik. Pada kincir angin energi angin digunakan
untuk memutar peralatan mekanik untuk melakukan kerja fisik, seperti
menggiling atau memompa air. Tenaga angin banyak jumlahnya, tidak habishabis, tersebar luas.
2.2.2 Asal Energi Angin. Semua energi yang dapat diperbaharui dan bahkan energi pada bahan
bakar fosil, kecuali energi pasang surut dan panas bumi berasal dari matahari.
Matahari meradiasi 1,74 x 1.014 Kilowatt jam energi ke Bumi setiap jam.
dengan kata lain, bumi ini menerima daya 1,74 x 1.017 watt.
Sekitar 1-2% dari energi tersebut diubah menjadi energi angin. Jadi, energi
angin berjumlah 50-100 kali lebih banyak daripada energi yang diubah
menjadi biomassa oleh seluruh tumbuhan yang ada di muka bumi.
Sebagaimana diketahui, pada dasarnya angin terjadi karena ada
perbedaan temperatur antara udara panas dan udara dingin. Daerah sekitar
khatulistiwa, yaitu pada busur 0°, adalah daerah yang mengalami pemanasan
lebih banyak dari matahari dibanding daerah lainnya di Bumi.
Daerah panas ditunjukkan dengan warna merah, oranye, dan kuning
pada gambar inframerah dari temperature permukaan laut yang diambil dari
satelit NOAA-7 pada juli 1984. Udara panas lebih ringan daripada udara
dingin dan akan naik ke atas sampai mencapai ketinggian sekitar 10 kilometer
dan akan tersebar kearah utara dan selatan.
Jika bumi tidak berotasi pada sumbunya, maka udara akan tiba dikutub
utara dan kutub selatan, turun ke permukaan lalu kembali ke khatulistiwa.
Udara yang bergerak inilah yang merupakan energi yang dapat diperbaharui,
yang dapat digunakan untuk memutar turbin dan akhirnya menghasilkan
listrik.
Tabel Kondisi Angin
2.2.3 Definisi Turbin Angin
Turbin angin adalah kincir angin yang digunakan untuk
membangkitkan tenaga listrik. Turbin angin ini pada awalnya dibuat untuk
mengakomodasi kebutuhan para petani dalam melakukan penggilingan padi,
keperluan irigasi, dll. Turbin angin terdahulu banyak digunakan di Denmark,
Belanda, dan Negara-negara Eropa lainnya dan lebih dikenal dengan windmill.
Kini turbin angin lebih banyak digunakan untuk mengakomodasi
kebutuhan listrik masyarakat, dengan menggunakan prinsip konversi energi
dan menggunakan sumber daya alam yang dapat diperbaharui yaitu angin.
walaupun sampai saat ini penggunaan turbin angin masih belum dapat
menyaingi pembangkit listrik konvensional (Co: PLTD, PLTU, dll), turbin
angin masih lebih dikembangkan oleh para ilmuan karena dalam waktu dekat
manusia akan dihadapkan dengan masalah kekurangan sumber daya alam tak
terbaharui (Co: batubara dan minyak bumi) sebagai bahan dasar untuk
membangkitkan listrik.
Angin adalah salah satu bentuk energi yang tersedia di alam,
Pembangkit Listrik Tenaga Angin mengkonversikan energi angin menjadi
energi listrik dengan menggunakan turbin angin atau kincir angin. Cara
kerjanya cukup sederhana, energi angin yang memutar turbin angin,
diteruskan untuk memutar rotor pada generator dibelakang bagian turbin
angin, sehingga akan menghasilkan energi listrik. Energi listrik ini biasanya
akan disimpan kedalam baterai sebelum dapat dimanfaatkan. Secara
sederhana sketsa kincir angin adalah sebagai berikut:
2.2.4 Jenis Turbin Angin
2.2.4.1 Turbin angin sumbu horizontal (TASH)
Turbin angin sumbu horizontal (TASH) memiliki poros rotor utama
dan generator listrik di puncak menara. Turbin berukuran kecil diarahkan oleh
sebuah baling-baling angin (baling-baling cuaca) yang sederhana, sedangkan
turbin berukuran besar pada umumnya menggunakan sebuah sensor angin
yang digandengkan ke sebuah servo motor. Sebagian besar memiliki sebuah
gearbox yang mengubah perputaran kincir yang pelan menjadi lebih cepat
berputar. Karena sebuah menara menghasilkan turbulensi di belakangnya,
turbin biasanya diarahkan melawan arah anginnya menara. Bilah-bilah turbin
dibuat kaku agar mereka tidak terdorong menuju menara oleh angin
berkecepatan tinggi. Sebagai tambahan, bilah-bilah itu diletakkan di depan
menara pada jarak tertentu dan sedikit dimiringkan.
Karena turbulensi menyebabkan kerusakan struktur menara, dan
realibilitas begitu penting, sebagian besar TASH merupakan mesin upwind
(melawan arah angin). Meski memiliki permasalahan turbulensi, mesin
downwind (menurut jurusan angin) dibuat karena tidak memerlukan
mekanisme tambahan agar mereka tetap sejalan dengan angin, dan karena di
saat angin berhembus sangat kencang, bilah-bilahnya bisa ditekuk sehingga
mengurangi wilayah tiupan mereka dan dengan demikian juga mengurangi
resintensi angin dari bilah-bilah itu.
2.2.4.2 Turbin angin sumbu vertikal
Turbin angin sumbu vertikal/tegak (atau TASV) memiliki
poros/sumbu rotor utama yang disusun tegak lurus. Kelebihan utama susunan
ini adalah turbin tidak harus diarahkan ke angin agar menjadi efektif.
Kelebihan ini sangat berguna di tempat-tempat yang arah anginnya sangat
bervariasi. VAWT mampu mendayagunakan angin dari berbagai arah.
Dengan sumbu yang vertikal, generator serta gearbox bisa ditempatkan
di dekat tanah, jadi menara tidak perlu menyokongnya dan lebih mudah
diakses untuk keperluan perawatan. Tapi ini menyebabkan sejumlah desain
menghasilkan tenaga putaran yang berdenyut. Drag (gaya yang menahan
pergerakan sebuah benda padat melalui fluida (zat cair atau gas) bisa saja
tercipta saat kincir berputar.
Karena sulit dipasang di atas menara, turbin sumbu tegak sering
dipasang lebih dekat ke dasar tempat ia diletakkan, seperti tanah atau puncak
atap sebuah bangunan. Kecepatan angin lebih pelan pada ketinggian yang
rendah, sehingga yang tersedia adalah energi angin yang sedikit. Aliran udara
di dekat tanah dan obyek yang lain mampu menciptakan aliran yang bergolak,
yang bisa menyebabkan berbagai permasalahan yang berkaitan dengan
getaran, diantaranya kebisingan dan bearing wear yang akan meningkatkan
biaya pemeliharaan atau mempersingkat umur turbin angin. Jika tinggi puncak
atap yang dipasangi menara turbin kira-kira 50% dari tinggi bangunan, ini
merupakan titik optimal bagi energi angin yang maksimal dan turbulensi angin yang minimal.
Kelebihan Turbin Angin Sumbu Vertikal
a. Tidak membutuhkan struktur menara yang besar.
(TASV):
b. Sebuah TASV bisa diletakkan lebih dekat ke tanah, membuat pemeliharaan
bagian-bagiannya yang bergerak jadi lebih mudah.
c. TASV memiliki sudut airfoil (bentuk bilah sebuah baling-baling yang
terlihat secara melintang) yang lebih tinggi, memberikan keaerodinamisan
yang tinggi sembari mengurangi drag pada tekanan yang rendah dan tinggi.
d. Desain TASV berbilah lurus dengan potongan melintang berbentuk kotak
atau empat persegi panjang memiliki wilayah tiupan yang lebih besar untuk
diameter tertentu daripada wilayah tiupan berbentuk lingkarannya TASH.
e. TASV memiliki kecepatan awal angin yang lebih rendah daripada TASH.
Biasanya TASV mulai menghasilkan listrik pada 10 km/jam (6 m.p.h.)
f. TASV biasanya memiliki tip speed ratio (perbandingan antara kecepatan
putaran dari ujung sebuah bilah dengan laju sebenarnya angin) yang lebih
rendah sehingga lebih kecil kemungkinannya rusak di saat angin
berhembus sangat kencang.
g. TASV bisa didirikan pada lokasi-lokasi dimana struktur yang lebih tinggi
dilarang dibangun.
h. TASV yang ditempatkan di dekat tanah bisa mengambil keuntungan dari
berbagai lokasi yang menyalurkan angin serta meningkatkan laju angin
(seperti gunung atau bukit yang puncaknya datar dan puncak bukit).
i. TASV tidak harus diubah posisinya jika arah angin berubah.
j. Kincir pada TASV mudah dilihat dan dihindari burung
Kekurangan Turbin Angin Sumbu Vertikal
a. Kebanyakan TASV memproduksi energi hanya 50% dari efisiensi TASH
karena drag tambahan yang dimilikinya saat kincir berputar.
(TASV):
b. TASV tidak mengambil keuntungan dari angin yang melaju lebih kencang
di elevasi yang lebih tinggi.
c. Kebanyakan TASV mempunyai torsi awal yang rendah, dan membutuhkan
energi untuk mulai berputar.
d. Sebuah TASV yang menggunakan kabel untuk menyanggahnya memberi
tekanan pada bantalan dasar karena semua berat rotor dibebankan pada
bantalan. Kabel yang dikaitkan ke puncak bantalan meningkatkan daya
dorong ke bawah saat angin bertiup.
Kesimpulan :
Dari tinjauan teori tsb diatas, kami di lokasi Rt11/Rw08 kelurahan Ngronggo berencana akan menerapkan 2 macam Penggerak, baik yang jenis baling-baling (TASH) maupun yang jenis Turbine ( TASV). Adapun output yang berupa energi listriknya disalurkan ke Central accumulator secara terpisah.
( Proposal ini sebagai melengkapi usulan Pengajuan kriteria Kampung Keren dari Rt11 / Rw 08
Perumnas Ngronggo Kelurahan Ngronggo ) Untuk Prodamas Plus tahun 2021.
Komentar
Posting Komentar